TERTINGGAL KARENA ACUH TAK ACUH DAN MALU BERBAHASA INGGRIS?

 


Bahasa inggris adalah bahasa internasional dimana bahasa ini berguna untuk menghubungkan komunikasi antar negara. Mengingat, di setiap negara pasti memiliki bahasa nya masing-masing, oleh karena itu ditetapkanlah Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional. Hal itu membuat bahasa Inggris menjadi penting untuk dikuasai sehingga seluruh sekolah di setiap negara pasti memiliki pelajaran bahasa Inggris untuk warga-warganya. Contohnya Negara kita tercinta, Indonesia.


Sepengamatan saya sebagai penulis sekaligus seorang siswi yang sedari Sekolah Dasar merasakan bagaimana pembelajaran Bahasa Inggris di sekolah Indonesia, menyadari ternyata masih banyak sekali kekurangan; dimulai dari guru, sistem pembelajaran serta lingkungan masyarakat sekitar yang ternyata mempengaruhi perkembangan berbahasa inggris saya dan mungkin sama halnya terjadi dengan anak-anak Indonesia lainnya. Mari kita bahas satu persatu faktor-faktornya.


  1. Guru

Guru adalah orang yang sangat berperan penting dalam dunia pendidikan, dimana mereka terjun langsung; mendidik serta mengajar murid-muridnya. Mereka secara tidak langsung dituntut untuk menjadi kompeten karena akan menjadi teladan untuk dicontoh oleh murid-muridnya. Namun, bagaimana jika mereka dalam keadaan sebaliknya?


Sayangnya dalam beberapa pelajaran di sekolah, banyak sekali guru yang acuh tak acuh dalam mengajar. Contohnya dalam pelajaran Bahasa Inggris, banyak guru yang terpaksa mengajar padahal Bahasa Inggris bukanlah bidang mereka. Akibatnya, banyaknya kesalahpahaman serta menimbulkan kurangnya minat siswa untuk mempelajari Bahasa Inggris. Para murid secara tidak langsung menjadi acuh tak acuh terhadap pelajaran tersebut, persis seperti apa yang guru mereka lakukan.


  1. Sistem Pembelajaran

Selain masalah kurangnya guru yang berkompeten dalam bidangnya, sistem pembelajaran di Indonesia juga menjadi salah satu faktor kurangnya minat Bahasa Inggris di Indonesia. Pasalnya, sistem pembelajaran di Indonesia itu lebih banyak mementingkan teori dibandingkan praktiknya. Padahal, keberhasilan berbahasa Inggris itu salah satunya diukur dengan kemampuan berbicara sebagai bentuk pengamalan pembelajaran.


Yang saya rasakan selama ini, banyak anak-anak indonesia yang tahu betul tentang aturan berbahasa Inggris (grammar), kosakata berbahasa Inggris dan sebetulnya mereka paham apa yang dibicarakan oleh turis atau bule. Tetapi masalahnya adalah mereka tidak percaya diri untuk berbicara bahasa Inggris karena sekolah tidak membiasakan mereka untuk praktek berbicara. Menguasai pembelajaran namun terlalu takut untuk mengamalkan.


  1. Lingkungan Masyarakat Sekitar

Hal ini cukup menyita perhatian saya karena saya baru menyadari bahwa ternyata ada faktor selain dari sistem pembelajaran yang membuat saya dan mungkin anak-anak Indonesia lainnya malu untuk berbahasa Inggris yakni, lingkungan sekitar kita.


“Ih, pake indo aja dong! sok iye lu pake bahasa inggris segala!”

“Uhuy! ada yang mau jadi bule kampung nih!”


Dan masih banyak lagi kalimat-kalimat yang secara tidak sadar membuat kita malu untuk mempraktekkan apa yang sudah kita pelajari di sekolah.


Tentu sebagian kita menganggap hal ini adalah hal yang sangat sepele. Banyak masyarakat berpikir bahwa itu hanyalah sekedar candaan, namun bagaimana jika orang tersebut menganggap sebaliknya? Karena faktanya, banyak anak-anak Indonesia yang lebih memilih menyembunyikan keahlian berbicara bahasa asingnya ketimbang diolok-olok oleh orang lain.


Saya harap, pihak pemerintah bisa lebih memperhatikan terkait guru dan sistem pembelajaran di sekolah karena dua hal itu sangat krusial dalam berjalannya sebuah proses pembelajaran yang baik untuk anak-anak Indonesia. Perlu ditegaskan kembali juga bahwa Bahasa Inggris ini sangat penting sekali untuk alat komunikasi manusia di masa depan. Bukan hanya pemerintah saja, namun seluruh masyarakat harus mendukung akan terciptanya generasi Indonesia yang pintar berbahasa asing. Bagaimana caranya? Caranya sangat mudah sekali yaitu dengan menciptakan lingkungan yang mendukung para anak Indonesia agar tidak malu berbahasa Inggris.




Komentar